Hal yang Sulit Dilakukan Kebanyakan Orang
Salah satu dari sekian banyak hal yang sulit banget dilakukan sama orang-orang, muda ataupun tua;
antre.
Gue sadar banget dari dulu kalo masih banyak banget orang yang susah diajak antre. Apalagi waktu antreannya panjang. Pasti ada adegan saling selak, mengusung ego masing-masing seakan-akan cuma mereka yang punya keperluan. Misal, antre beli makan. Ada aja ibu-ibu (maaf nih, gue seringan ketemu sama ibu-ibu) nyelak. Pas ditegur, bilangnya anaknya udah lapar. Duh, padahal bukan anak si ibunya doang yang lapar.
Gue share post tentang antre karena belum lama ini gue ada kejadian ngga enak selama antre. Ya apa lagi kalo bukan diselak. Sama ibu-ibu? Ngga, sama anak muda yang umurnya sama kayak gue. Sama-sama calon mahasiswa baru. Miris.
Minggu lalu, gue ke 'calon kampus' untuk daftar ulang. Sayangnya, waktu daftar ulang ngga ada nomor antrean. Jadi, kita antre berdasarkan siapa yang duluan datang.
Awalnya gitu.
Harapannya pun pada mau antre.
Nyatanya? Ngga.
Kebetulan fakultas gue banyak banget camaba (red: calon mahasiswa baru)-nya. Duduk antreannya bahkan sampai ngejamah tiga barisan belakang dari dua fakultas. Sialnya, instruksi dari pengurus tentang antrean untuk fakultas gue kurang jelas. Alhasil, camaba yang duduknya nyebrang fakultas sering diselak, termasuk gue. Antrean ramai, diselak berkali-kali pula. Gue datang jam 8 pagi, baru taruh berkas sekitar jam 12 siang. Ngga usah ditanya bagaimana kabar mood gue hari itu. Berantakan banget!
Jujur, miris gue liatnya. Masih banyak anak muda yang kesadaran untuk antrenya rendah. Gue harap, dari post gue yang berantakan ini, mulai pada sadar untuk antre dan ngga ragu untuk menegur orang yang selak antrean. Meskipun itu orang tua.
Maaf ya, gue bingung gimana nutup celotehan gue hari ini. Gue pamit undur diri.
Dah!
Ps: jangan bingung dengan tulisan antre bukan antri. Karena dalam KBBI, yang benar itu antre. Kalo gak percaya, sila cek sendiri di KBBI daring.
antre.
Gue sadar banget dari dulu kalo masih banyak banget orang yang susah diajak antre. Apalagi waktu antreannya panjang. Pasti ada adegan saling selak, mengusung ego masing-masing seakan-akan cuma mereka yang punya keperluan. Misal, antre beli makan. Ada aja ibu-ibu (maaf nih, gue seringan ketemu sama ibu-ibu) nyelak. Pas ditegur, bilangnya anaknya udah lapar. Duh, padahal bukan anak si ibunya doang yang lapar.
Gue share post tentang antre karena belum lama ini gue ada kejadian ngga enak selama antre. Ya apa lagi kalo bukan diselak. Sama ibu-ibu? Ngga, sama anak muda yang umurnya sama kayak gue. Sama-sama calon mahasiswa baru. Miris.
Minggu lalu, gue ke 'calon kampus' untuk daftar ulang. Sayangnya, waktu daftar ulang ngga ada nomor antrean. Jadi, kita antre berdasarkan siapa yang duluan datang.
Awalnya gitu.
Harapannya pun pada mau antre.
Nyatanya? Ngga.
Kebetulan fakultas gue banyak banget camaba (red: calon mahasiswa baru)-nya. Duduk antreannya bahkan sampai ngejamah tiga barisan belakang dari dua fakultas. Sialnya, instruksi dari pengurus tentang antrean untuk fakultas gue kurang jelas. Alhasil, camaba yang duduknya nyebrang fakultas sering diselak, termasuk gue. Antrean ramai, diselak berkali-kali pula. Gue datang jam 8 pagi, baru taruh berkas sekitar jam 12 siang. Ngga usah ditanya bagaimana kabar mood gue hari itu. Berantakan banget!
Jujur, miris gue liatnya. Masih banyak anak muda yang kesadaran untuk antrenya rendah. Gue harap, dari post gue yang berantakan ini, mulai pada sadar untuk antre dan ngga ragu untuk menegur orang yang selak antrean. Meskipun itu orang tua.
Maaf ya, gue bingung gimana nutup celotehan gue hari ini. Gue pamit undur diri.
Dah!
Ps: jangan bingung dengan tulisan antre bukan antri. Karena dalam KBBI, yang benar itu antre. Kalo gak percaya, sila cek sendiri di KBBI daring.
Comments
Post a Comment