Self Acceptance


Allah menciptakan makhluknya dengan berbagai macam bentuk, sifat, kelebihan, kekurangan, dan lainnya. Itu yang bikin seru, semua orang di muka bumi ini berbeda meski masih memiliki kesamaan. Ngga asik aja kan, ngeliat banyak orang kalo bentuk fisiknya sama persis padahal ‘beda pabrik’. Namun, dari semua kesamaan dan perbedaan, ada satu hal yang sangat gue yakini berbeda di setiap orang. Yakni, self acceptance—penerimaan diri.

Gue pribadi agak ragu kalau gue sudah menerima diri gue sendiri yang begini adanya. Badan tinggi (alhamdulillah, untuk ukuran perempuan gue tergolong tinggi meski ngga banget), gendut (well, gue tergolong obesitas sebenarnya), pemalas (terkadang gue bangga menjadi pemalas), tidak fashionable alias gembel-able, dan yak, banyak deh. Gue ngga merendah—apaan juga yang mau direndahkan dari keburukan itu, tapi, ini beberapa dari sekian banyak hal yang membuat gue belum bisa menerima diri sendiri.

Just love yourself, Ra!

“Terima diri lu, syukuri apa yang ada di diri lu sekarang. Bisa jadi yang lu ngga suka justru lagi diharapkan orang lain.”

“Terima dan sayangi diri lu sendiri. Gimana mau menerima dan menyayangi orang lain kalo diri ke sendiri aja ngga bisa?”

Tolong, jangan bicara kalimat-kalimat di atas atau sejenisnya ke gue. Sering gue dengar orang bicara gitu. Ngomongnya mah gampang, dengarnya apalagi, susahnya ya aplikasiin omongan itu. Seandainya mencintai diri sendiri segampang napas, mungkin saat ini gue ngga akan ‘berperang’ sama otak gue sendiri. Berperang untuk tetap bisa bersyukur dan positif saat pikiran-pikiran negatif tentang diri gue sendiri menyerang.

Jujur, kadang yang bikin gue bingung, saat orang melakukan ‘perubahan’ banyak yang berasumsi kalau dia berubah untuk orang lain. Memang ada yang berubah untuk orang lain—diterima oleh orang lain, dilirik gebetan, dan lainnya—tapi, ya kan ngga semua. Ada yang berubah untuk diterima oleh diri sendiri. Contohnya, gue.

Belakangan ini gue lagi mencoba untuk sering olahraga dan jaga pola makan buat merubah bentuk fisik gue—agar gue bisa menerima diri gue sendiri. Susah, jujur aja. Apalagi gue anaknya kan inkonsisten, berasa banget. Gue pun mulai lirik-lirik liptint, seenggaknya biar gue ada ‘ceweknya’. Biar ngga gembel-gembel amat keluar pake celana-sweater-kerudung.

“Kalo gitu lu ngga jadi diri lu sendiri dong?”

Belum tentu dengan gue kenal lipen ngga jadi diri sendiri. Kalau ternyata gue jadi lebih menerima, lebih terbuka, dan lebih menjadi diri gue sendiri, gimana?

Setiap orang punya kadar penerimaan diri yang berbeda. Ada yang sudah menerima penuh, menerima sebagian dari dirinya, bahkan ada yang belum sama sekali. Gue percaya, ngga mudah menerima diri sendiri. Banyak prosesnya untuk percaya kalau, “Ini lho diri gue seada-adanya.” Pun gue sangat percaya kalau prosesnya itu ngga singkat serta ngga selalu bertahan pemikiran itu. Namanya manusia, rasanya ada aja yang kurang. Pintar-pintarnya kita aja sih untuk bersyukur apa yang kita punya.

Untuk teman-teman yang masih berusaha untuk menerima diri sendiri, jangan menyerah. Suatu hari nanti, ntah karena diri sendiri atau terdorong oleh orang lain, kalian pasti bisa menerima diri sendiri.

Buat yang kenal Dilan, tolong bilangin ke dia ya. Yang berat itu bukan rindu, tapi menerima diri sendiri.

Comments

Popular posts from this blog